Home » Cerita Seks Terbaru » Cerita Seks Dewasa 2016 Bikin Gemes Deh Ah

Cerita Seks Dewasa 2016 Bikin Gemes Deh Ah

Area Bola Agen Taruhan

Cerita Seks Dewasa 2016 Bikin Gemes Deh Ah – | Ternikmat.com » Kumpulan cerita sex hot terlengkap, galery cerita porno sex, cerita bokep sexs, majalah dewasa sexs, novel sexs terbaru, cerita panas sexs | November 1998 KOta Bandung lagi sering-seringnya hujan, becek dimana-mana. I hate it ! Cuaca ini membuat hampir setiap aku selesai kuliah harus bengong dulu di kampus, nunggu hujan reda, abis naik motor sih ! Hingga sore hari sekitar jam 16.00 hujan mulai reda.

Cerita Seks Dewasa 2016 Bikin Gemes Deh Ah Cerita Seks Dewasa 2016 Bikin Gemes Deh Ah
Cerita Seks Dewasa 2016 Bikin Gemes Deh Ah

Pada saat aku sedang kesulitan menyalakan motor, (platina basah, maklum.. besi tua keluaran 1961), ada seorang cewek yg kukenal tp bukan di kampus ini sedang berjalan di selasar depan lapangan parkir dgn wajah kusut masam.

Betul itu si Wanda ! Kupanggil dia, dan ia menoleh. Ia menyapaku sekedarnya dan berhenti berjalan. Sambil berlari kecil kuhampiri tuh cewek,

“Halo ! Apa kabar lo ? Ngapain di sini ? Nyari data ?”, tanyaku seperti berondongan senapan M-16.

Dgn senyum sedikit ia menjawab,

” Ya gitu deh ! Gw musti nyari data di Fakultas Arsitektur buat skripsi gw nih !” sambil tetap mengenakan wajah kusutnya.
“Lho ? Kan lo anak psikologi ? kok nyari data di arsitek?”, tanyaku cepat karena memang sudah sekian lama nggak ketemu nih anak dan secara tak sadar ingatanku melayg..

Agustus 1998, Di sebuah Sanggar Tari Bali di kotaku, ketika itu aku sedang menjemput sahabatku Niky (cewek blasteran Cina-Amerika) pulang latihan tari Bali. Telah berkali-kali aku menjemput Niky namun aku nggak pernah melaygkan perhatian pada cewek-cewek yg latihan di situ, abis cowok sendiri, males..

Nah, pada saat itulah aku dikenalkan oleh Niky kepada temannya, Wanda. Cukup cantik, rambut sebahu, dgn tinggi sekitar 160cm, tubuhnya sangat proporsional, aku menebak vital measurementnya sekitar hmm… 34-27-34. Kulitnya putih berkeringat dgn pipi kemerahan segar, memakai kaos putih ketat dgn sarung Bali terikat santai di pinggangnya.

Orangnya cuek abiss ! Cenderung sombong sih… but I liked her ! Pertemuan kita hanya segitu karena saya harus mengantar Jannie pulang dan aku pun harus bikin tugas buat besok.

Sejak perkenalan kami, seringkali aku jemput sahabatku lebih awal dan seringkali aku masuk ke dalam sanggar untuk menonton mereka latihan. Ketika itu aku hampir selalu memperhatikan Wanda yg menari dgn lekuk tubuhnya yg sangat lentur. Terpesona dgn keahliannya ia menari, sampai tak sadar Niky mengagetkanku,

“Dor ! Hahaha ! Lo jelék banget déh kalo lagi ngeceng , Ham!” ,ejeknya.

Aku hanya kaget sebentar lalu kembali kepada posisi semula.. ngeceng dgn jeleknya !

“Ooo.. si Wanda ya ?” tanyanya mengetahui bahwa aku sedang ngeceng si Wanda.

Aku menoleh pada Niky lalu aku bilang aja langsung,

” Iya nih ! Imut bener sih tuh anak? Gimana Nik kalo gw pacaran ama dia ?”
“Emang bisa lo ngedapetin die ?” tanya Niky sambil mencibir.
“Belon tau ilham lo Nik!”, sahutku dgn pe-denya.
“Tuh anak susah banget Ham! Udah punya cowok lagi !”, katanya.
“Yaaaah…”sahutku dgn nada kecewa, namun langsung kulanjutkan, “Berarti semakin tertantang dong !huahaha !”
“Apaan yg bikin lo semakin tertantang ?” tanyanya lagi. Aku masih belum sadar bahwa itu bukan suara Niky.
” Ya semakin tertantang buat ngedapetin si Wanda doong !” sahutku yakin namun keyakinanku itu hanya sedetik karena kulihat Niky sedang memelototiku dgn wajah menahan tertawa. Dan ketika itulah aku sadar bahwa Wanda sudah berada di belakangku dan Niky. Aku menoleh dan kulihat wajah manis itu tersenyum ke arahku.. huwalaaaaaaahhhh !

Dan sejak itulah aku mulai dekat dgn Wanda, meski hanya sebatas teman. Untung cowoknya di Jakarta jadi tdk pernah ketahuan (gosipnya cowoknya cemburuan !). Selang 2 minggu kemudian Niky punya cowok, tp aku masih sering ke sanggar tari itu, namun kali ini bukan untuk ngejemput Niky tp ngejemput Wanda ! Namun sejak awal September, aku kehilangan kontak dengannya karena ia pergi berlibur dgn cowoknya ke Australia. Sejak itu aku nggak pernah bertemu dia lagi hingga saat redanya gerimis ini.

“…Gw nyari data tentang efek ruangan terhadap perilaku manusia..” katanya.
“Hah ? Apaan ?”, jawabku tersadar dari lamunanku.
“Huahahaha !”, mendadak aku dikejutkan oleh tawanya yg renyah dan khas dari bibir seorang Wanda.
“Masih sama aja blo’on-nya lo tuh ya ! Hahaha !”, sambungnya.

Sambil menggaruk-garuk ranbut gondrongku yg tdk gatal aku tersenyum salah tingkah. Hari itu akhirnya aku berhasil menyalakan motorku dan mengantarkan dia ke tempat les bahasa Perancis. Karena sudah terlambat, aku belum sempat menanyakan kost dimana dia sekarang, jadi hilanglah lagi kontakku dengannya.

Sampai pada suatu hari aku menyempatkan diri untuk mengunjungi bekas guru Aikido ku ketika ia sedang mengajar di salah satu gelanggang olah raga di kotaku.Ketika aku memasuki ruang besar itu, kulihat sekitar 30 orang sedang berlatih berpasang-pasangan dan saling membanting. Takeshi Kawamura sedang memberikan aba-aba, dan melatih. Aku berdiri di pinggir ruangan sambil melepas jaket kulitku dan menggantungkannya di salah satu tiang volley.

Kuperhatikan mantan guruku itu tdk berubah juga penampilannya, seorang Jepang gendut umur 30-an yg berimigrasi ke Indonesia hanya untuk mengajarkan Aikido, wah idealis sekali kedengarannya, tp ya begitu tampaknya.

Ia tdk memperhatikan kedatanganku sampai ketika ia berbalik badan menghadapku, ia melihatku dan serta merta membungkuk memberikan hormatnya kepadaku. Akupun memberi hormatku kepadanya, tindakan mendadaknya itu membuatku malu karena pasti aku disangka murid-muridnya lebih tinggi tingkatannya dari gurunya itu. Lalu ia memberikan aba-aba untuk berisWandahat, dan dgn tersenyum ia mendekatiku,

“Apa kabar Ilham?”
“Baik-baik saja sensei..” jawabku dgn hormat.
“Bagaimana dgn krub beradiri di kampusmu itu ? Masih jaran ?”, tanyanya tetap dgn suara dan aksen jepangnya yg lantang, membuatku malu dihadapan sekian banyak orang yg langsung melihatiku mendengar pertanyaan eks-guruku itu.

“Baik sekali sensei ! Bahkan kami sudah bertambah banyak anggotanya.”, jawabku ramah.
“Bagus.. bagus ! Tp semestinya kamu tdk berhenti ratihan Aikido, ilham!” tanggapnya.
“Ya, tp sensei tahu sendiri bahwa aku merasa tdk cocok dgn Aikido..” jawabku.

Ketika aku selesai menjawab itulah, guruku itu tersenyum aneh kepadaku, aku bertanya-tanya dalam hati,

“Ada apa nih ? Kok senyam senyum gak jelas gitu sih dia ?”, sekitar 10 detik ia masih tetap tersenyum, dan ….ngekk ! Sebuah cekikan keras di leher dari belakang dan tanganku terkunci kebelakang badan membuatku sulit bernafas dan tak dapat bergerak.

Secara refleks aku melakukan satu sikap beladiri yg sangat cepat dgn melakukan irimi (langkah dasar dalam ilmu beladiri Aikido), lalu mengatasi kuncian dan cekikan itu, kukunci balik orang yg mencekikku dari belakang, ketika aku meraih tubuhnya dibelakangku aku merasakan bahwa yg menyerangku ini adalah seorang perempuan, namun ia sudah terlanjur melayg setinggi satu setengah meter di udara ! Secepat kilat kuraih kembali tubuhnya dan kuarahkan arah jatuhnya kesamping dan kutahan punggungnya dgn tangan kiriku sementara tangan kananku sedang mengunci lengannya.

Dgn posisi kedua tanganku yg tdk menguntungkan ini kubiarkan kami jatuh berguling-guling ke samping di atas tatami (tikar Jepang), hingga pada akhirnya posisiku berada diatas memegang kedua pergelangan tangannya. Serta merta aku kaget setengah mati bahwa yg menyerangku adalah…Wanda !

“Gila kamu, Ra !” sahutku kaget ..

Posisi tubuhku yg rebah menelungkup tubuhnya ini membuat jarak antara wajahku dgn wajah Wanda hanyalah tinggal 3 cm lagi ! Yg lebih membuat aku berdebar-debar adalah bahwa tubuh kita saling bertindihan.

Lalu ia tersenyum manis sekali dgn mata sayu, wajahnya sangat khas dgn pipinya yg kemerahan. Melihat senyumnya itu aku terkesima dan tak dapat bergerak, cantik sekali ! Tak sadar, ‘adikku’ mulai berdiri dan mendesak di dalam celana jinsku.

Tampaknya Wanda menyadari hal itu, dan bukannya segera melepaskan dirinya dari dekapanku, ia malah semakin mendesakkan pinggulnya ke tubuhku, sehingga selangkanganku pun semakin tertekan dgn selangkangannya, untung gerakan ini tdk terlihat orang lain.

Wanda menggunakan celana silat dgn bahan kanvas tipis (bahan twill) yg secara langsung membuatku dapat merasakan tonjolan bukit venusnya dan belahan lunak dibalik celananya itu. Merasa sudah terlalu lama dalam posisi itu aku langsung berguling ke samping, berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Setelah berdiri, aku masih bengong menyadari apa yg telah kami lakukan tadi, ketika kulihat lagi, ia sudah berlalu sambil tersenyum dan memberikan tanda padaku untuk menunggunya sampai selesai latihan.

Masih dalam keadaan bengong tak kusadari ada yg bergerak-gerak disampingku, kulihat mantan guru Aikidoku sedang terkekeh-kekeh sendiri melihat kejadian tadi, dan ternyata semua orang sedang tersenyum sambil memperhatikanku. Waduh malunya !!!

19.15 BBWI Malam itu aku menunggunya sampai selesai latihan, lalu kami bertemu kembali di luar gedung, berjalan menuju lapangan parkir, diam seribu bahasa, namun ia tetap tersenyum manis.

“Ra, kok gw gak pernah tau lo belajar Aikido sih ?”, celetukku memecahkan suasana, ia hanya tersenyum sambil menunduk.

Sesampainya di samping motorku, aku bingung bahwa aku hanya membawa satu helm.

“Waduh, Ra ! Gw cuma bawa satu helm nih ! gimana dong ?” tanyaku menyadari bahwa helmku hanya satu.
“Biarin aja ! Udah malem ini, gak akan ada polisi ! Lagian gw boleh dong nyobain ‘helm’ lo? Yg satu-satunya itu kan ?”, tanyanya dgn menekankan kata ’helm’ lebih jelas.
“Hah ?”, baru saja aku masih kaget dgn peristiwa barusan, kini dikagetkan lagi dgn pertanyaannya yg ‘geblek’ itu. Dgn tololnya kujawab,
“boleh..nih gw pasangin..”, sambil mengenakan helmku itu dikepalanya.

Ia tertawa kecil dan membiarkan aku memasangkan tali pengikat helmku di lehernya yg putih mulus itu.Sembari kuikatkan tali helmku itu, aku sadar betul bahwa ia tetap memandangiku dgn tersenyum nakal.

“Hihihi… lucu banget sih lo !”, katanya.

Aku nggak ambil pusing dgn pertanyaannya dan langsung menyalakan motorku, lalu kita boncengan pulang. Di jalan ia bertanya lagi dgn sablengnya,

“Cuma segini kecepatan motor lo ?”.

Masih dgn perasaan yg tak karuan dan mulai kesal dgn dipermainkannya diriku, aku langsung tancap gas. Motor tuaku itu memang mengerti perasaanku, ia melesat cepat bagaikan angin di sepanjang jalan protokol di kotaku itu.

“Wuih ! Kenceng banget !”, sahutnya agak ketakutan kini, rasain ! kataku dalam hati… baru tahu rasa kamu !
“Makanya ! Pegangan dong ! Kalo nggak nanti ketinggalan lho ! Hahahaha !”, ledekku puas karena akhirnya bisa membalas jahilnya itu.

Tanpa disangka, ia memeluk pinggangku dgn tangan kirinya, sementara tangan kanannya memeluk lengan bawah ke arah bahuku dan meletakkan dagunya di pundakku, posisi sedekat itu membuat dadanya mendesak punggungku.. empuk sekali !

“Gila ! Masih sempat di jahil di saat seperti ini ?”, pikirku dalam hati.
“Hey ! Tangan kanan lo jangan meluk tangan gw dong ! gw kagok nih nyetirnya ! Rada kebawah dong !” teriakku di tengah deru mesin dan angin.
“Oke, sayaaaaang !”, sahutnya menggodaku (lagi..!), dan… ia meletakkan tangannya tepat di selangkanganku !!!

Huwalaah ! Gila kupukir nih cewek ! Aku hanya terbengong-bengong dan tetap memperhatikan jalan di hadapanku.

“Lho ? Kok tegang ?”, katanya.

Ternyata ia memperhatikan mimik wajahku dari kaca spionku. Sialaaaan !! Lalu aku cepat menguasai diri, dan hanya tersenyum sedikit ke arah wajahnya di spion tempat ia memperhatikanku.

“Gimana nggak tegang ! Jarang ada cewek yg gw bonceng, pegangan ke situ !” jawabku enteng sudah bisa menguasai keadaan hatiku yg nggak karuan ini.
“Tp sekarang sih udah gak tegang lagi kok…biasa aja tuh !”, lanjutku.
“Kenapa dong masih keras ?hi.. hi..hi..!”, katanya sambil agak meremas genggamannya di selangkanganku.

Ya ampun ! Jadi maksud kata ‘tegang’ itu maksudnya adalah batangku ? Ampun nih cewek maksudnya apa sih ? Aku merasa dilecehkan sekali, wajahku mulai cemberut dan mangkel rasanya. Tampaknya ia menyadari hal itu, namun ia tdk mengendurkan genggaman tangannya di selangkanganku !

Kami tdk berbicara apa-apa lagi kecuali mendengar petunjuk-petunjuk arah jalan menuju tempat kostnya. Sesampainya di tempat kostnya, is melepaskan helmku, dan turun dari motor. Ia menyerahkan helmku itu kepadaku sambil berkata,

” I had a great.. even short.. time with you ! Nice bike you’ve got there !”
“You just realized huh ? What this cute thing can do ?”, sahutku cuek-cuekan sambil menepuk-nepuk tangki motorku.

Ia tersenyum sedikit lalu ia membuang pandangannya ke samping, sambil terus berdiri disampingku tanpa melakukan atau berkata apa-apa.

“What the hell does this chick want from me ? A kiss ?”, tanyaku dalam hati.

Masih saling berdiam beribu bahasa, ia mengajakku untuk masuk dulu ke dalam untuk secangkir kopi atau the. Kuterima saja tawarannya, sambil menghangatkan tubuh di malam dingin ini. Anyway, it’s a long way home dari tempat kost dia ke rumahku.

Aku duduk di sudut tempat tidurnya, kamarnya tertata rapi sekali, dihiasi dgn berbagai macam jenis poster artistik, tampaknya ia sangat menyukai kesenian. Ia pergi ke dapur untuk membuatkanku kopi.

Kuperhatikan terus kamarnya, meja belajar, dgn sederet jadwal kegiatannya selama seminggu, kayak aktivis aja deh! Penuuuh banget dgn kegiatan kursus, les, kuliah, jadwal fitness dan lain-lain. TV, Playstation™, VCR, CD Player dan sound system. Hingga mataku tertumbuk pada salah satu benda di atas speaker… sekotak kondom DUREX® ! Buat apa ada kondom di sini ? Jangan-jangan…?

Aku tak berani menggeratak barang-barang lainnya, cukup kaget aku untuk mengoprek-oprek lagi. Kulanjutkan penelitianku tadi dan di kepala tempat tidurnya kulihat deretan foto-fotonya, dgn keluarga, dgn pacarnya (hmm.. ganteng juga cowoknya, gede lagi badannya !), dan di deretan paling kanan kulihat benda yg sangat familiar bila kubuka site-site pono di internet… sebuah vibrator ! Pertama kali aku melihat benda itu secara nyata semenjak terakhir aku pulang dari Amerika tahun 1994 ! Warnanya putih gading dgn gerigi sedikit pada bagian tengah batangnya.

Baru saja aku memberanikan diri untuk beranjak untuk mengambil benda itu, Wanda kembali sambil membawakan dua cangkir kopi panas. Kuurungkan niatku untuk melihat benda itu..

“Sorry, lama. Abis kompornya susah nyala tuh !”, sahutnya gembira, sambil meletakkan cangkir-cangkir kopi itu di meja belajarnya, lalu menutup pintu kamar serta menguncinya.

Pura-pura tdk melihat apa-apa, aku pun menyahut, “Waah ! Sorry nih udah ngerepotin..”.

“Nggak kok ! Nggak repot.. eh gimana kuliah lo ?”, tanyanya.
“Baik-baik aja. Mungkin semester depan aku mulai nyusun skripsi nih !”, jawabku basa-basi.
“Ooh.. baguslah ! Gw sih lagi nyusun sekarang ini !” ,katanya lagi.
“Wah ! Canggih juga ya lo ? Nyusun sambil kursus ini itu ! Emang sempet ?”, tanyaku tercengang.
“Sempet dong ! Atur waktu aja !”, sahutnya yakin,
“Eh, Ham! Gw mandi dulu ya ? Lengket nih keringetan !”, katanya lagi sambil mnggosok-gosok tangannya.
“Lho ? Kan yg lengket-lengket itu enak lho !”, sahutku ngawur.
“Dasar !”, umpatnya sambil memukul lenganku agak keras, lalu berlalu ke kamar mandi.

Namun sampai akhirnya terdengar suara siraman air, pintu kamar mandi di kamarnya belum juga ditutup.

“Woy ! Kapan mandinya ? kok cuci kaki melulu ?”, tanyaku tdk sabar menunggunya terlalu lama, kusangka ia tengah mencuci kakinya dulu sebelum mandi.
“Ini juga lagi mandi, blo’on !”, jawabnya membuatku tertawa tdk percaya.

Sambil beranjak berdiri, aku nyahut,

“Kalo gitu aku ikutan nyu….”, tak kulanjutkan kata-kataku, dan bengong memandangnya.
“Nyu.. apaan ? Nyuci ? Nyuri ?”, jawabnya santai.
“Aa..aa..eeh..”, tanpa dapat berkata-kata aku bengong melihatnya dari atas sampai bawah, ternyata benar… ia sedang mandi ! Tubuhnya terbungkus oleh busa sabun, rambutnya diikat ke atas, dan dari lekuk dan postur tubuhnya, ia memang ‘a masterpiece’ !!!
“Aa.. uu..aa..”, masih belon bisa berkata-kata aku bengong terus dan tercengang menyaksikan pemandangan indah di hadapanku.

Sambil terus menyabuni tubuhnya, ia menggosok bagian bawah lengannya, tampaknya ia menyadari ketercenganganku itu, ia berhenti bergerak, tangannya diturunkan ke samping tubuhnya, lalu naik sambil merayapi kulit putih mulusnya, naik terus hingga ia memegang buah dadanya yg membulat (meskipun sudah agak turun sih..), dan mulai memainkan jari-jarinya pada putting susunya.

Aku masih saja terpaku hingga akhirnya pandanganku bertabrakan dgn matanya. Ia tengah tersenyum dgn mata sayu sama persis dgn kejadian di tempat latihan Aikido tadi. Aku terpesona oleh kejelitaannya, terpesona oleh aura indah yg dipancarkannya, terpesona oleh pendar birahi yg dinyalakannya…

Tiba-tiba ia bergerak cepat sekali ke arahku dan segera saja aku tersadar dari buaian melenakan itu, namun tanpa sempat berbuat apa-apa, mulutnya sudah menyumpal mulutku, dan memainkan lidahnya didalam mulutku. Secara naluri, akupun membalasnya dgn bernafsu. Kugigit-gigit bibir bawahnya, kubelai-belai rambutnya yg setengah basah tersiram air sedikit rupanya, dan ia pun merspon hal yg sama.

Kulanjutkan ciumanku pada bibirnya, kumainkan bibirku secara cepat lalu melambat lalu cepat lagi, begitu terus, dan ciumanku mulai merembet ge dagunya, lalu ke lehernya (untung belum disabuni !), lalu ke telinganya, kujullurkan lidahku kedalam telinganya, dan kugelitik mesra sambil tetap kubelai rambut dan wajahnya.

Sambil kugigiti cuping telinganya, ia menggigit pundakku agak keras, matanya terpejam menikmati perlakuanku padanya. Hingga pada suatu saat, kupandangi wajahnya, mata kami pun beradu. Tanganku mulai turun membelai leher, pundak, lengan, dan pinggangnya. Lalu kubuka kanjing dan retsleting jinsku, ia membantunya dgn tetap mata kami saling berpandangan.

Nafas kami sudah sangat memburu dan sulit diatur. Diturunkannya jinsku, lalu kurasakan jemarinya menyusup ke dalam celana dalamku, ia menemukannya ! Digenggamnya batang kejantananku, lalu ia mulai meremasnya perlahan, lalu makin keras ! Lalu ia mulai menggosoknya naik turun, karena tangannya masih bersabun, maka gerakannya makin lancar dan licin. Aku menikmati permainan tersebut tanpa melepas pandangan dari matanya.

Tangan kananku pun mulai naik membelai tubuhnya, melewati dadanya dan berhenti pada buah dadanya, kumainkan sedikit dgn jemariku sementara tangan kiriku kuturunkan ke pantatnya dan meremasnya perlahan. Dgn tetap berpandangan, kudengar nafasnya sudah mulai memburu dan terengah-engah. Tangannya yg begitu nakal memainkan k0ntolku itu membuatku bergetar nikmat.

Pada saat itulah jari-jari tangan kananku mulai memutar-mutar putting susunya secara perlahan. Ia mendesah tanpa berkedip, aku pun begitu. Kuturunkan tangan kiriku tadi dari pantatnya dan mulai menjalari tubuh bagian depannya, kusentuh kulit bagian bawah pusarnya dan ia bergerak sedikit kegelian. Tangan kirinya yg masih menganggur itu ia turunkan untuk memegang tangan kiriku dan menuntunnya ke bawah ke arah selangkangannya.

Kutangkap pesannya, kuturunkan perlahan menyusuri bulu-bulu halus yg diselubungi busa sabun itu dan akhirnya kurasakan sesuatu yg sangat lembut, hangat dan basah, aku tak perduli apakah basah karena busa sabun atau cairan kewanitaannya ! Mulailah kumainkan jari tengahnku langsung menggosok-gosok dan menekan klitorisnya yg sudah mengeras. Ia bergetar keras dan mulai mengocok k0ntolku cepat. Aku pun melakukan hal yg sama, kupercepat gerakan jariku sambil terus berpandang-pandangan. Tangan kananku meremas buah dadanya yg indah sembari sesekali memijit-mijit putingnya bergantian kanan dan kiri.

Nafas kami sudah sangat cepat sekarang, ia mulai merem melek, akupun begitu. Pinggul kami bergoyang cepat mengikuti irama gerakan tangan masing-masing. Hingga suatu saat kurasakan desakan yg sudah tak asing lagi di daerah selangkanganku. Darahku berdesir cepat, dan ia pun begitu. Matanya mulai melotot dan pinggulnya bergerak semakin liar (teman-teman menyebutnya UWH : Unpredictable Wiggling Hips !), lalu ia berbisik di telingaku,

“Ham, kayaknya aku mau sampai ..Ham.. tolong Ham.. dikit lagi Ham..hiiihh !”.
“Aku juga Ra, ohh.. aku juga !”, erangku menahan nikmat. Hingga pada suatu saat ia mendadak mencium bibirku dalam sekali, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya dan,
“NENG WANDAAA !! ADA TELEPON !! DARI MAS ARIII ! “,panggilan itu terdengar seperti suara bom tepat disamping telingaku !

Kami pun saling melotot, dan menghentikan aktivitas kami itu. Kami saling berpandang-pandangan, dan sekali-lagi,

“NEEENG ! ADA TELEPOOON !”, sahut pembantu kostnya itu.
“I..hh..IYA SEBENTAAARRHH..hh..!”, sahut Wanda menjawab dgn masih terengah-engah.
“EMMH.. BI..BILANG SURUHH.. TU.. TUNGGUU..hh !”, sahutnya lagi.

Kami secara perlahan melepaskan tangan kami dari tubuh masing-masing. Ia berpaling dan menyuruhku untuk keluar kamar mandinya, aku menurut. Entah perasaan apa yg kurasakan saat itu. Yg aku tahu ia bergegas memakai kimononya keluar kamar mandi, melewatiku tanpa menengok atau bahkan melirik ke arahku. Aku duduk terhenyak di samping tempat tidurnya dan menunggunya kembali. Mataku bengong menatap karpet di hadapanku. Sampai beberapa saat kemudian ia kembali menutup pintu dan menguncinya lalu menyandarkan punggungnya di daun pintu. Matanya menatap langit-langit kamar. Nafasnya sudah teratur kini.

Kami diam seribu bahasa.

Lalu aku berdiri, mengambil jaketku, mamakainya dan bergegas menujunya yg tengah bersandar di pintu.

“I’d better go.. I gwss..”, kataku pelan sekali.

Ia tak menjawab, tp hanya mengangguk kecil lalu sambil menundukkan kepalanya , lalu ia bukakan pintu untukku.

“Thanks ! You’re a great coffee maker !”, candaku kecil. Ia hanya tersenyum sambil menunduk.

Lalu kudekati wajahnya, dan kukecup bibir tipisnya perlahan sekali.

Ia diam saja, pasif..

“I think I’ve got stuck on you now, Ra !”, kataku lagi sambil berlalu. Tak ada kata-kata dari bibirnya, ia tetap menunduk dan menutup pintu kamarnya.

Kunyalakan motorku, dan tiba-tiba saja jalan raya sudah di hadapanku..

Kupacu motorku sekencang-kencangnya kembali ke rumahku..

Malam ini dingin sekali rasanya .. Baca juga .Cerita Seks Terkini 2016 Tante Cantik Supermodel Hot Terima kasih sudah membaca cerita seks di web ternikmat.com jangan lupa bookmark caranya klik CTRgL+D lalu OK. -Terima kasih  Cerita sex online, cerita dewasa online, cerita porn online, cerita mesum online, cerita panas online, cerita hot online, cerita sex gratis