Home » Cerita Mesum » Cerita Seks 2016 Tragedi Maya Dengan Tukang Sapu

Cerita Seks 2016 Tragedi Maya Dengan Tukang Sapu

Area Bola Agen Taruhan

Cerita Seks 2016 Tragedi Maya Dengan Tukang Sapu – | Ternikmat.com » Kumpulan cerita sex hot terlengkap, galery cerita porno sex, cerita bokep sexs, majalah dewasa sexs, novel sexs terbaru, cerita panas sexs | Saat itu adalah jam 1 siang di basement parkir, Maya baru saja melemparkan tas dan diktat kuliahnya ke dalam mobil dan hendak masuk ke kemudi ketika terdengar Edi, si penjaga kampus itu muncul dan menyapanya dari belakang.

Cerita Seks 2016 Tragedi Maya Dengan Tukang Sapu Cerita Seks 2016 Tragedi Maya Dengan Tukang Sapu
Cerita Seks 2016 Tragedi Maya Dengan Tukang Sapu

“Siang Non !! Sudah mau pulang ya !” sapanya dengan suara pelan
“Haduuhh…ngagetin aja bapak ini, ada apa sih Pak !” jawabnya agak ketus sambil mengelus dada.
“Hehehehe…anu non, bapak cuma mau ngasih liat sesuatu buat non yg sepertinya penting” jawabnya dengan terkekeh.
“Apaan sih Pak, cepetan deh saya mau pulang nih !”

Edi pun mengeluarkan HP-nya dan memperlihatkan file-file gambar itu kepada Maya. Betapa kagetnya gadis itu, ekspresi wajahnya seperti melihat setan, pucat dengan mulut ternganga begitu melihat gambar pertama yg ditunjukkan yaitu dirinya sedang mengulum k0ntol Leo kemarin sore, disusul gambar-gambar berikutnya yg semua berisi adegan syur dirinya bersama kekasihnya itu.

“A-a-apa-apaan ini Pak, apa…apa maksudnya semua ini !?” tanyanya terbata-bata dengan ekspresi kebingungan bercampur kaget.
“Hehehe…bagus yah non ? kalo saya cetak fotonya gimana non ?” wajah Edi menyeringai mesum
“Kurang ajar, apa sebenernya mau Bapak ?” Maya menjadi geram sehingga hampir berteriak, keringat mulai menetes di dahinya.
“Ssttt…ssssttt…jangan keras-keras dong non, nanti yg lain denger gimana” Edi mengacungkan telunjuk di depan hidungnya dengan tetap cengengesan,
“nah, gimana kalau kita bicarakan di gudang sana aja deh, biar lebih enak !” katanya lagi dengan pandangan ke arah sebuah pintu di salah satu pojok basement itu.

Maya tdk bisa berkata-kata lagi, jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya panas dingin, namun karena tdk ada jalan lain dia terpaksa mengikuti saja Edi yg terlebih dahulu berjalan ke ruang itu.

Ruang itu tdk begitu besar, diterangi lampu neon 10 watt, sebuah tangga lipat tersandar di dinding diantara setumpuk barang bekas, juga terdapat sebuah rak yg berisi kaleng-kaleng cat, tiner, dan macam-macam peralatan. Setelah keduanya masuk, Edi menyalakan lampu dan menggeser slot pintu membuatnya terkunci dari dalam. Maya begitu terkejut dan tersentak kaget begitu merasakan pantatnya diraba dari belakang, dia langsung berbalik dan menepis tangan Edi.

“Ahhh…kurang ajar, jangan keterlaluan ya Pak !!” bentaknya marah
“Ahahaha…ayolah Non, kemarin juga Non nafsu banget kan ?” seringainya “lagian apa Non punya pilihan lain buat ngejaga rahasia ini” mimiknya mulai serius.
“Ok…ok Pak, gimana kalau Bapak bilang aja mau berapa, pasti saya kasih” Maya sudah demikian panik sampai-sampai suaranya gemetaran.
“Ooohh…uang, dasar orang kaya, saya selama kerja disini ngerasa cukup-cukup aja kok Non, tanpa anak istri yg perlu dibiayai, yg susah didapat itu ya kesempatan untuk mencicipi cewek seperti Non ini” sambil menatapnya dalam.

Maya benar-benar kehabisan akal, dia tdk tahu harus bagaimana lagi. Dia merasa jijik untuk melayani lelaki yg seumuran ayahnya ini yg juga dari status dan ras yg berbeda, tapi nampaknya tdk ada pilihan lain untuk menutupi skandalnya ini, jangankan foto, beritanya yg tersebar saja sudah cukup membuatnya jadi bahan gunjingan sekampus, kedua tangannya terkepal keras menahan emosi.

“Sekarang ya terserah Non aja, bapak ga mau maksa kok, kalo non ga mau silakan pergi, kalau setuju silakan non duduk disini biar kita bisa berunding lagi”kata Edi sambil mengambil kursi lipat yg lapisan kulitnya telah sobek, dibentangkannya kursi itu di dekat Maya yg masih tertegun.

Akhirnya dengan berat hati, Maya pun menghempaskan pantatnya ke kursi itu.

“Nah gitu dong baru anak manis, pokoknya asal Non nurut, saya jain rahasia ini aman”

Kemudian Edi membuka resulting celananya dan menyembullah k0ntol yg sudah mengeras itu di depan wajah Maya. Matanya melotot melihat k0ntolnya yg hitam berurat dengan ujungnya disunat menyerupai jamur serta jauh lebih besar daripada milik kekasihnya.

“Gede kan Non, pasti punya pacar Non ga segede gini kan !” katanya dengan bangga memamerkan senjatanya itu. “Nah, ayo Non sekarang servisnya mana !”

Dengan tangan gemetar, dia mulai meraih k0ntol itu dan mengocoknya pelan.

“Servis mulutnya mana Non, masa cuma tangan doang sih !” suruhnya tak sabar

Pelan-pelan, Maya memajukan wajahnya sambil memandangnya jijik, dia melanjutkan kocokannya sambil menyapukan lidahnya pada kepala k0ntol itu dengan ragu-ragu, sehingga Edi jadi gusar.

“Heh, apa-apaan sih, disuruh pake mulut malah cuma pake lidah disentil-sentil gitu !” bentaknya
“gini nih yg namanya pake mulut !” seraya menjambak kuncir rambut Maya dan menjejalkan k0ntolnya ke dalam mulutnya.
“Mmmhhppphh…!!” hanya itu yg keluar dari mulut Maya yg telah dijejali k0ntol, air mata menetes dari sudut matanya.

Mulut Maya yg mungil itu membuatnya tdk bisa menampung seluruh batang itu, ditambah lagi bau yg keluar dari benda itu menambah siksaannya.

“Ayo, yg bener nyepongnya, kemaren kan hebat ke pacarnya, kalau gak muasin rahasianya ga Bapak jamin loh !”

Edi mendesah merasakan belaian lidah Maya pada k0ntolnya serta kehangatan yg diberikan oleh ludah dan mulutnya. Pertama kalinya sejak dipenjara belasan tahun yg lalu dia kembali menikmati kehangatan tubuh wanita. Maya sendiri walaupun merasa jijik dan kotor, tanpa disadari mulai terangsang dan mulai mengulum benda itu dalam mulutnya.

“Uuhhh…gitu Non, enak…mmmm !” gumamnya sambil memegangi kepala Maya dan memaju-mundurkan pinggulnya.

Maya merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir Edi yg berbulu lebat itu, k0ntol di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya. Sekitar sepuluh menit lamanya dia harus melakukan hal itu, sampai Edi menekan kepalanya sambil melenguh panjang.

“Ooohh…keluar nih Non, isep…awas kalo dimuntahin, sekalian bersihin kontolnya !” perintahnya dengan nafas memburu.

Cairan putih kental itu menyembur deras di dalam mulutnya dan mau tdk mau, Maya harus menelannya, rasanya yg asin dan kental itu membuatnya hampir muntah sehingga tersedak. Beberapa saat kemudian barulah semprotannya melemah dan berhenti. Maya langsung terbatuk-batuk begitu Edi mencabut k0ntol itu dari mulutnya. Nafasnya terengah-engah mencari udara segar, air mata telah mengalir membasahi wajah cantiknya.

“Sudah…cukup ya Pak, saya mohon lepaskan saya !” Maya memohon.
“Cukup apanya Non, baru juga pemanasannya, pokoknya dijamin puas deh Non !” ujar Edi sambil berjongkok di depannya, tangannya meraih ujung baju Maya hendak menyingkapnya.
“Jangan…jangan Pak, saya mohon !” ucapnya mengiba sambil menahan tangan Edi yg akan menaikkan bajunya.

Namun tenaganya tentu saja kalah dari pria setengah baya itu yg menepis tangannya dan langung menyingkap kaos sekaligus bra hitam di baliknya. Kini mulut Edi dengan rakus menjilat dan menyedot puting Maya yg merah dadu itu, setelah beberapa saat tangannya yg menggeraygi payudara yg lain mulai turun ke bawah mengelus paha mulusnya lalu menyusup masuk ke roknya. Di dalam rok, tangan kasar itu menjejahi kemulusan paha dalam Maya sebelum akhirnya menjamah selangkangannya yg masih tertutup celana dalam.

Maya hanya bisa pasrah menerima perlakuan itu, dia mendesah dan sesekali terisak saat tangan itu mulai meraba-raba kemaluannya dari luar. Rasa geli membuatnya mengatupkan kedua belah pahanya sehingga tangan Edi terjepit diantara kemulusan kulitnya. Hal ini membuatnya semakin bernafsu, dia mulai menyusupkan jari-jarinya melalui pinggiran celana dalam itu dan menyentuh bibir memeknya yg telah becek.

“Hehehe…nangis-nangis tapi ikut konak juga !” ejeknya sambil nyengir lebar ketika merasakan daerah kewanitaan Maya yg basah itu.

Kemudian dengan mengaitkan dua jari, ditariknya lepas celana dalamnya yg juga warna hitam itu, lalu diangkatnya juga roknya sehingga kini angin menerpa tubuh bagian bawah yg telah terbuka itu.

“Buka kakinya Non !” perintahnya pada Maya yg merapatkan pahanya dengan rasa malu yg mendalam.
“Buka ga…atau fotonya saya sebarin !” katanya lagi dengan lebih keras.

Dengan amat terpaksa, Maya mulai membuka pahanya perlahan-lahan memperlihatkan kemaluannya yg berbulu cukup lebat kepada Edi yg berjongkok di depannya. Dia menggigit bibir dan memejamkan mata, tak pernah terbayang olehnya akan melakukan hal ini di depan lelaki seperti itu.

“Wah…udah lama sekali Bapak gak ngerasain yg satu ini !” katanya sambil menatapi daerah pribadi itu dan mengelusnya.

Tak lama kemudian Edi pun melumat memeknya dengan ganas, diserangnya setiap sudut memek itu mulai dari bibir hingga klitorisnya disertai gigitan-gigitan kecil, tangan kanannya meraih payudaranya dan meremasinya, sedangkan yg kiri menelusuri kemulusan pahanya.

“Uh…uhh…jangan…sudah, ahhh… !” desah Maya dengan tubuh menggeliat-geliat menahan rasa geli yg bercampur nikmat luar biasa itu, suatu perasaan yg tdk bisa ditahannya lagi.

Tubuh Maya telah basah oleh keringat, wajahnya memerah dan nafasnya makin memburu. Mendadak dia merasakan bulu kuduknya merinding semua, secara reflek dia merapatkan kedua pahanya mengapit kepala Edi karena sebuah sensasi dahsyat, ternyata Edi membenamkan lidahnya pada bagian yg lebih dalam dari memeknya, dia merasakan dinding memeknya menjepit lidah Edi.

Selain itu dia juga merasakan putingnya makin mengeras karena terus dipilin dan dipencet-pencet oleh Edi. Puas bermain-main dengan memek itu, Edi mengangkat tubuh Maya bangkit berdiri, kini posisi mereka berhadap-hadapan. Tanpa perlawanan berarti Edi melucuti kaos dan bra-nya. Yg tersisa di tubuhnya tinggal rok yg telah tersingkap ke atas dan sepatu haknya, sementara Edi masih memakai kaos dan seragam karyawannya yg kancingnya terbuka sebagian tetapi tanpa celana. Diangkatnya wajah Maya yg tertunduk, ditatapnya sejenak dan disekanya air mata yg mengalir sebelum dengan tiba-tiba melumat bibir mungil itu dengan ganas.

Mata gadis itu membelakak menerima serangan kilat itu, dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendorong dada Edi, namun sia-sia karena Edi memeluknya begitu kuat dengan tangan satunya memegangi kepalanya. Lidahnya mendorong-dorong dan menjilati bibirnya, ditambah lagi tangannya merabai kulit punggung dan pantatnya menyebabkan Maya makin terangsang sehingga bibirnya mulai membuka membiarkan lidah Edi masuk menyerbu rongga mulutnya.

Beberapa saat kemudian Edi merasakan badan Maya sudah lebih rileks dan tdk meronta lagi, maka diapun melepaskan pegangannya pada kepala Maya agar bisa menjamah daerah lainnya. Tanpa sadar. Maya pun merespon permainan lidah Edi walaupun awalnya bau mulut Edi terasa tak nyaman baginya, sekalipun nuraninya mengatakan tdk, dia tdk bisa menahan gelombang birahi yg menerpanya, terlebih saat itu tangan Edi sedang menggeraygi segenap penjuru tubuhnya.

Kedua telapak tangan kasar itu berhenti di pantatnya dan masing-masing mencaplok satu sisi. Dirasakannya kedua bongkahan daging itu, bentuknya padat berisi dan bulat indah karena memang sebagai anak dari kalangan berada, Maya merawat benar tubuhnya dengan fitness dan diet. Ciuman Edi makin merambat turun ke leher jenjangnya lalu dia membungkukkan badan agar bisa menciumi payudaranya.

Maya sudah tdk bisa menahan diri lagi, birahi telah membuyarkan akal sehatnya. Lagipula yg pernah menikmati tubuhnya bukan cuma bajingan tua ini dan Leo, kekasihnya, sebelumnya dirinya pernah terlibat one night stand dengan beberapa pria dan juga mantan pacarnya semasa SMA, yg membedakannya dengan pria-pria lain cuma status sosial, ras, dan perbedaan usia yg mencolok. Jadi untuk apa lagi menahan diri dan jaga image, toh sudah telanjur basah, jadi sebaiknya tuntaskan saja agar masalah selesai, demikian yg terlintas di benaknya.

Dari leher mulut Edi turun lagi ke dadanya, dia membungkuk agar bisa menyusu dari payudara berukuran 32B yg montok itu. Dijilatinya dengan liar hingga permukaan payudara itu basah oleh ludahnya, terkadang dia juga menggigiti putingnya memberikan sensasi tersendiri bagi Maya. Tangan satunya turun meraba-raba kemaluannya dan memainkan jarinya disitu menyebabkan daerah itu makin berlendir.

“Pak…Pak…ga mau…ahh-ah !” desahnya antara menolak dan menerima.

Sambil terus memainkan jarinya Edi mendorong tubuh Maya hingga punggungnya bersandar di tembok. Sekali lagi dia menyergap bibir Maya, sambil berciuman tangannya menempelkan kepala k0ntolnya ke bibir memek Maya. Gesekan kepala k0ntol dengan bibir memek itu membuat Maya merasa geli sehingga tubuhnya menggelinjang. Lalu pelan-pelan Edi menekan k0ntolnya ke liang senggama Maya.

“Sshhh…sakit, aawhhh…!!” rintih Maya ketika k0ntol Edi yg besar itu menerobos memeknya.

Maya meringis dan merintih menahan rasa sakit pada memeknya, meskipun sudah tdk perawan tapi kemaluannya masih sempit, lagipula k0ntol para pria yg pernah kencan dengannya tdk ada yg sebesar ini. Sementara Edi terus berusaha memasukkan senjatanya sambil melenguh-lenguh. Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya masuklah seluruh k0ntol itu ke memeknya, walaupun nafsu sudah di ubun-ubun, Edi masih berhati-hati agar korbannya tdk menjerit dan suaranya terdengar keluar, maka itu dia lebih memilih pelan-pelan daripada memakai sodokan mautnya untuk melakukan penetrasi. Saat itu airmata Maya meleleh lagi merasakan sakit pada memeknya.

“Huhh…masuk juga akhirnya, memeknya seret banget Non, Bapak suka yg kaya gini” katanya dekat telinga Maya.
Sesaat kemudian, Edi sudah menggoyangkan pinggulnya, mula-mula gerakannya perlahan, tapi makin lama kecepatannya makin meningkat. Maya benar-benar tdk kuasa menahan erangan setiap kali Edi k0ntol Edi menghujam sambil berharap tdk ada orang lewat yg mendengar suara persenggamaan mereka. Saat itu adalah hari Sabtu, jam-jam seperti ini memang kegiatan kuliah sedikit sehingga yg parkir di basement itu pun tak banyak, tapi tdk menutup kemungkinan kalau seseorang lewat situ dan mengetahui yg terjadi di ruang ini.

Gesekan demi gesekan yg timbul dari gesekan alat kelamin mereka menimbulkan rasa nikmat yg menjalari seluruh tubuh Maya sehingga matanya membeliak-beliak dan mulutnya mengap-mengap mengeluarkan rintihan. Edi lalu mengangkat paha kirinya sepinggang agar bisa mengelusi paha dan pantat Maya sambil terus menggenjot.

Menit demi menit berlalu, Edi masih bersemangat menggenjot Maya. Sementara Maya sendiri sudah mulai kehilangan kendali diri, dia kini sudah tdk terlihat sebagai seseorang yg sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah bajingan tua itu. Kemudian tanpa melepas k0ntolnya, dia mengangkat paha Maya yg satunya dan digendongnya menuju kursi dimana dia mendaratkan pantatnya.

Anehnya, tanpa disuruh, Maya memacu dan menggoyangkan pinggulnya pada pangkuan Edi karena kini bukan lagi pikiran dan perasaannya yg bekerja melainkan naluri seksnya. Ketika memandang ke depan, dilihatnya wajah tua gelap pria itu sedang menatapnya dengan takjub, segaris senyum terlihat pada bibirnya, senyum kemenangan karena telah berhasil menaklukkan korbannya. Dengan posisi demikian, Edi dapat mengenyot payudara Maya sambil menikmati goyangan pinggulnya. Kedua tangannya meraih sepasang gunung kembar itu, mulutnya lalu mencium dan mengisap putingnya secara bergantian.

Remasan dan gigitannya yg terkadang kasar menyebabkan Maya merintih kesakitan. Namun dia merasakan sesuatu yg lain dari persenggamaan ini, lain dari yg dia dapat dengan pria lain yg pernah bercinta dengannya yg umumnya bersikap gentle, gaya bercinta Edi yg barbar justru menciptakan sensasi yg khas baginya yg belum pernah dia dapatkan sebelumnya. Di ambang klimaks, tanpa sadar Maya memeluki Edi dan dibalas dengan pagutan di mulutnya.

Mereka berpagutan sampai Maya mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkram erat-erat lengan kokoh Edi. Sungguh dahsyat orgasme pertama yg didapatnya, namun ironisnya hal itu bukan dia dapat dari kekasihnya melainkan dari seorang pria mesum yg memanfaatkan situasi tdk menguntungkan ini. Setelah dua menitan tubuhnya kembali melemas dan bersandar dalam pelukan Edi.

K0ntol Edi yg masih menancap di memeknya belumlah terpuaskan, maka setelah jeda beberapa menit dia bangkit sehingga k0ntol itu terlepas dari tempatnya menancap. Maya yg belum pulih sepenuhnya disuruhnya menungging dengan tangan bertumpu pada kepala kursi.

“Oohh…udah dong Pak, saya sudah gak kuat, tolong !” Maya memelas dengan lirih

Mendengar itu, Edi cuma nyengir saja, dia merenggangkan kedua paha Maya dan menempelkan k0ntolnya pada bibir kemaluannya.

“Uugghh…oohh !” desah Maya dengan mencengkram sandaran kursi dengan kuat saat k0ntol itu kembali melesak ke dalam memeknya.

Tangannya memegang dan meremas pantatnya sambil menyodok-nyodokkan k0ntolnya, cairan yg sudah membanjir dari memek Maya menimbulkan bunyi berdecak setiap kali k0ntol itu menghujam. Suara desahan Maya membuatnya semakin bernafsu sehingga dia meraih payudara Maya dan meremasnya dengan gemas seolah ingin melumatkan tubuh sintal itu.

15 menit lamanya Edi menyetubuhinya dalam posisi demikian, seluruh bagian tubuh Maya tdk ada yg lepas dari jamahannya. Sekalipun merasa pedih dan ngilu oleh cara Edi yg barbar, namun Maya tak bisa menygkal dia juga merasakan nikmat yg sulit dilukiskan yg tdk dia dapatkan dari pacarnya.

Akhirnya, Edi menggeram dan merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya, k0ntolnya dia tekan lebih dalam ke dalam memek Maya, serangannya juga makin gencar sehingga Maya dibuatnya berkelejotan dan merintih. Kemudian dia melepaskan k0ntolnya dan crot…croot…croot, spermanya muncrat membasahi pantat Maya.

Belum cukup sampai situ, disuruhnya Maya menjilati k0ntolnya hingga bersih, setelahnya barulah dia merasa puas dan memakai kembali celananya. Maya bersimpuh di lantai dengan menyandarkan kepala dan lengannya pada kursi itu, wajahnya tampak lesu berkeringat dan bekas air mata, dalam hatinya berkecamuk antara kepuasan yg sensasional ini dan rasa benci pada pria yg baru saja memperkosanya.

Edi mendekatinya dan berjongkok, lalu berkata

“Nah sekarang rahasia Non aman, tapi Non juga harus pastikan cuma kita berdua yg tau yg terjadi barusan kalau tdk, foto-foto Non ini akan saya kirim ke sembarang orang atau mungkin akan terpajang di papan penguman, ngerti !”

Setelah Maya berpakaian kembali, dia menyuruhnya pergi setelah memastikan keadaan sekitar situ aman. Dalam perjalanan pulangnya, Maya hampir saja menabrak mobil lain karena melamun memikirkan kejadian barusan yg membuat dirinya serasa hina, namun juga merasakan kepuasan yg lain dari biasanya. Sementara itu Edi menanti kesempatan untuk memangsa korban berikutnya. Baca juga Cerita Seks Terkini 2016 Gara-Gara Sunat. Terima kasih sudah membaca cerita seks di web ternikmat.com jangan lupa bookmark caranya klik CTRL+D lalu OK. -Terima kasih  Cerita sex online, cerita dewasa online, cerita porn online, cerita mesum online, cerita panas online, cerita hot online, cerita sex gratis